GENG MOTOR DENGAN PENDEKATAN TEORI KONFLIK RANDALL COLLINS
Disusun
guna memenuhi tugas uts:
Mata
kuliah: Teori
Sosiologi
Disusun oleh:
Lita jamallia (1110015000053)
KONSENTRASI SOSIOLOGI-ANTROPOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FITK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Pertemuan
antar geng sering jadi saat yang paling rawan gesekan. Nyawa berguguran dan
melahirkan dendam tak berujung. Awalnya geng motor hanya kumpulan anak-anak
remaja yang hobi ngebut dengan motor, baik siang maupun malam hari. Mereka
melakukan balapan motor alias trek-trekan di jalanan umum. Tapi kini, geng
motor kini sudah meresahkan masyarakat, karena sepak terjangnya makin beringas.
Kelompok ini sekarang sudah menyebar ke berbagai wilayah. Untuk mengetahui, kenapa
mereka berubah brutal dan jahat, kita mesti lebih dulu mengetahui latarbelakang
organisasinya dan doktrin yang diterapkan saat mereka direkrut yang disebut
sumpah. Setiap anggota geng motor dalam sumpahnya, harus berani melawan polisi
berpangkat komisaris ke bawah. Anggota harus berani melawan orangtuanya
sendiri. Sumpah terakhir, anggota harus bernyali baja dalam melakukan kejahatan. Dan konflik geng motor ini kita paparkan melalui
pendekatan teori Randall Collins.
1.2 Perumusan
masalah
A. Bagaimana Biografi Randall Collins?
B. Bagaimana teori Randall Collins?
C. Apa itu geng
motor dan contoh konflik kasusnya dengan pendekatan teori Randall Collins?
1.3 Tujuan
A. Kita dapat mengetahui Biografi Randall
Collins.
B. Kita dapat mengetahui teori Randall
Collins.
C. Kita juga
dapat mengetahui apa itu geng motor dan contoh konflik kasusnya serta
penyebabnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. BIOGRAFI RANDALL COLLINS
Aku mulai menjadi
sosiologi sejak muda. Ayahku bekerja di intelejensi militer di akhir perang
dunia II, kemudian masuk ke Departemen Luar Negri Amerika sebagai pejabat dinas
urusan Luar Negri. Salah satu kenang – kenanganku paling awal adalah kedatanganku
di Berlin untuk bergabung dengan ayah di Musim panas tahun 1945. Aku dan
saudara wanitaku tak dapat bermain di taman karena di situ taman ranjau darat
dan suatu hari serdadau rusia datang ke halaman belakang rumah kami untuk
menggali kuburan korban perang. Kejadian ini memberiku perasaan bahwa konflik
adalah penting bahwa kekerasan mungkin.
Kepindahan tugas ayahku
selanjutnya membawaku ke Uni Soviet, kembali ke Jerman (kemudian di bawah
pendudukan militer Amerika), Spanyol dan Amerika selatan. Di antara
melaksanakan tugas luar negri kami tinggal di Amerika, dengan demikian aku
kembali dan seterusnya hidup antara menjadi seorang anak Amerika biasa dan
menjadi tamu istimewa luar negri. Pengalaman ini menimbulkan sejumlah sikap
tertentu dalam memandang hubungan sosial. Ketika aku makin dewasa kehidupan
Diplomatis kelihatan makin kurang dramatis dan makin menyerupai sebuah
lingkaran etika formal tak berujung , dimana orang tak pernah berbicara tentang
persoalan politik penting yang sedang terjadi; pemisahan antara kerahasiaan di
belakang layar dan seremonial di depan layar menyebabkan aku siap menghargai
Ervving gofman.
Ketika aku sudak terlalu
dewasa untuk menyertai orang tuaku di luat negri aku di kirim ke SMU swasta di
New England. Ini mengajariku realitas sosiologi besar lain nya; keadaan
stratifikasi sosial. Banyak di antara siswa lain berasal dari The Sicial
register (daftar orang terkemuka dalam masyarakat) dan aku mulai menduka bahwa
ayahku tak sama kelas sosialnya dengan duta besar dan Mentri muda yang anak –
anak mereka kadang – kadang aku temui.
Aku kemudian belajar di
Harvad di mana aku berganti jurudan enam kali. Aku belajar kesustraan dan
menjadi seorang dramawan dan penulis novel. Aku pindah dari matematika ke
filsafat; aku membaca karya Freud dan merencanakan menjadi Psikiatris. Akhirnya
aku memilih jurusan hubungan sosial dan antropologi. Setelah mengambil kuliah
Talcott Parson aku masuk jurusan hubungan sosial. Kuliah Parson meliputi bidang
kajian yang sangat luas, mulai analisa tingkat mikro ke tingkat makro dan
akhirnya menjelaskan sejarah dunia . Tak banyak yang kudapat dari teori Parson
kecuali gagasan tentang apa yang harus di pelajari oleh sosiologi. Ia pun
memberiku beberapa bagian penting tentang model kultural. Parson mengajariku bahwa
Max Weber kurang perhatiannya mengenai etika protestan ketimbang dirinya
sendiri yang membandingkan dinamika seluruh agama yang ada di dunia dan
Durkhaime yang mengajukan pertanyaan kunci ketika ia mencoba menjelaskan basis
prakontraktual dari ketertiban sosial.
Kupikir aku ingin
menjadi seorang Psikolog dan belajar di Starford, tetapi setelah setahun
menerima ajaran menyakinkan bahwa sosiologilah tempat yang lebih baik untuk
mempelajari kehidupan manusia, aku berganti Universitas dan di musim panas tahun
1964 aku tiba di Berkeley dan ketika itu juga bergabung dengan gerakan hak –
hak sipil. Musim gugur tahun ini juga muncul gerakan kebebasan berbicara muncul
di kampus kami. Kami mantan aktor gerakan aksi duduk mulai tertarik kepada
faktor penyebab lain yang membangkitkan emosi ketika orang dapat menciptakan
solidaritas bersama ratusan orang lain.
Aku mencoba membuat
analisa sosiologi konflik pada saat kami mengalaminya bersama. Ketika perang
Vietnam berlangsung dan konflik rahasia dalam negri (di Amerika) meningkat,
gerakan oposisi tak lama lagi tegaki prinsip tanpa kekerasannya:kebanyakan
mahasiswa menjadi kecewa, putus sekolah dan beralih ke gaya hidup hipis. Bila
anda tak kehilangan kesadaran sosiologis anda. Aku mempelajari karya Erving
Gofman dan Herbert Blumer (ketika itu keduanya adalah Profesar Berkeley) dan
mulai memahami mengapa seluruh aspek masyarakat, konflik stratifikasi, dan lain
– lainya, di bangun dari ritual interaksi kehidupan sehari hari kita.
Aku pernah merencanakan
menjadi profesor, namun hingga kini aku mengajar di berbagai universitas. Aku
mencoba menghimpun kajian sosiologi dalam satu buku, Conflik sociology (1975)
tetapi gagal dan aku menulis buku lainya, The Credintial Society (1979) untuk
menjelaskan kemerosotan sistem status di mana kita semua terperangkap di
dalamnya. Untuk membuat kajian sendiri secara serius, aku meninggalkan dunia
akademis dan untuk sementara kehidupanku di topang oleh hasil menulis novel dan
buku ajar. Akhirnya setelah ditarik oleh beberapa teman, aku kembali mengajar.
Bidang kajianku sangat luas mulai dari gambar baru sejarah dunia turun ke
rincian mikro emosi sosial. Istri ke duaku judith mcconnell, adalah salah
seorang yang paling penting pengaruhnya terhadap kehidupanku. Ia mengorganisir
pengacara wanita untuk membongkar rintangan diskriminansi dalam profesi hukum
dan kini aku belajar darinya mengenai politik di belakang layar pengadilan
tinggi. Dalam sosiologi dan dalam masyarakat makin banyak yang harus di
kerjakan.[1]
B. Teori konflik Randall
Collins yang lebih Integratif[2]
Tokoh utama dalam
upaya membangun teori konflik yang lebih sintesis dan integratif adalah Randall
Collins. Conflict Sosiology karya
Collins (1975) sangat integratif karena jauh lebih berorientasi mikro ketimbang
teori konflik makro Dahrendrof dan yang lainnya. Mengenai karya awalnya ini,
Collins mengatakan: “Kontribusi utama untuk teori konflik adalah menambah
analisis tingkat mikro terhadap teori yang bertingkat makro ini. Saya terutama
mencoba menunjukkan bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi
kehidupan sehari-hari” (1990:72).
Dari awal Collins
(1975) menjelaskan bahwa perhatiannya terhadap konflik tidak akan bersifat
ideologis; yakni, dia tidak mengawali dengan pandangan politis bahwa konflik
adalah baik atau buruk. Dia mengatakan bahwa dia memilih konflik sebagai fokus
berdasarkan landasan yang realistik, yakni bahwa konflik adalah proses sentral
dalam kehidupan sosial.
Berbeda dari
teoritisi lainnya yang memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan,
Collins mendekati konflik dari sudut pandang individu karena akar teoritisnya
terletak dalam fenomenologi dan etnometodologi. Meski ia lebih menyukai teori
berskala kecil dan bertingkat individual, Collins menyadari bahwa “sosiologi
tidak akan berhasil hanya berdasarkan analisis tingkat mikro saja” (1975:11).
Teori konflik tak bisa berbuat apa-apa tanpa analisis tingkat kemasyarakatan.
Tetapi, sementara sebagian besar teoritisi konflik percaya bahwa struktur
sosial berada di luar (eksternal)- dan memaksa- pihak aktor, Collins cenderung
melihat struktur sosial tak dapat di pisahkan dari aktor yang membangunnya, dan
yang mana pola interaksinya adalah esensi struktur sosial. Collins cenderung
melihat struktur sosial lebih sebagai pola interaksi ketimbang sebagai kesatuan
eksternal dan imperatif. Selain itu, sementara sebagian besar teoritisi konflik
melihat aktor dipaksa oleh kekuatan eksternal, Collins bependapat bahwa aktor
terus-menerus menciptakan ulang organisasi sosial.
Collins melihat
teori Marxian sebagai “titik tolak” teori konflik,tetapi teori Marxian
menurutnya mengandung berbagai masalah.
Pertama, seperti fungsionalisme struktural, teori Marxian mengandung banyak
ciri ideologis, ciri yang ingin ia hindarkan. Kedua, ia cenderung melihat
orientasi Marx dapat diturunkan ketingkat analisis bidang ekonomi, meski ini
adalah suatu kritikan tak beralasan terhadap teori Marx. Teori konfliknya
sebenarnya sedikit sekali dipengaruhi Marxian dan justru lebih banyak
dipengaruhi Weber, Durkheim dan terutama oleh fenomenologi dan etnometodologi.
Strafikasi Sosial.
Collins memilih memusatkan perhatian pada stratifikasi sosial karena
stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh begitu banyak ciri
kehidupan, seperti “kekayaan, politik, karier, keluarga, klub, komunitas, gaya
hidup” (1975:49). Menurut Collins teori-teori besar telah “gagal” menerangkan
stratifikasi sosial. Teori besar yang dimaksud Collins adalah teori
fungsionalisme struktural dan teori
Marxian. Dia mengkritik teori Marxian, misalnya dengan menyatakan sebagai
“penjelasan monokausal untuk kehidupan multikausal” (Collins, 1975:49). Ia
memandang teori Weber sebagai “antisistem”. Teori Weber berguna bagi Collins,
tetapi “upaya sosiologi fenomenologi untuk melandasi semua konsep yang
digunakan mengamati kehidupan sehari-hari” (Collins, 1975:53) adalah sangat
penting bagi Collins karena sasaran utamanya dalam studi stratifikasi sosial
adalah berskala kecil. Menurut pandangannya, stratifikasi sosial, seperti semua
struktur sosial lainnya, dapat dikurangi ke tingkat individual dalam kehidupan
sehari-hari yang saling berinteraksi menurut cara yang terpola.
Meski komitmen
terakhinya tertuju pada mikro sosiologi stratifikasi, Collins memulai
analisisnya dari Marx dan Weber sebagaiu pondasi karyanya sendiri. Ia memulai
dengan prinsip Marxian dengan menyatakan bahwa prinsip Maxian itu “ dengan
modipikasi tertetu menyediakan basic untuk membangun teori konfliknya tentang
stratifikasinya “ ( Collins, 1975”58).
Pertama. Collins berpendapat bahwa pandangan Marx yang menyatakan kondisi
material yang terlibaat dalam pencarian nafkah dalam masyarakat moderen adalah
faktor yang menentukan gaya hidup seseorang. Basis upaya mencari nafkah menurut
Marx adalah hubungan perseorangan dengan kekayan pribadi. Orang yang memiliki
atau mengontrol kekayaan akan mampu menafkahi hidupnya dengan cara yang jauh
lebih memuaskan ketimbang orang yang tidak memilki kekayaan dan harus menjual
tenaga kerjanya untuk mendapatkan akses alat-alat produksi.
Kedua, menurut perspektif Marxian
kondisi material tak hanya mempengaruhi cara individu mencari nafkah, tetapi
juga memengaruhi ciri-ciri kelompok sosial dalam kelas sosial yang berbeda. Kelas
sosial dominan lebih mampu mengembangkan kelompok sosial yang lebih padu, yang
terikat bersama oleh jaringan komunikasi yang kompleks, ketimbang kelas sosial
subordinat.
Terakhir, Collins menyatakan bahwa Marx
juga menunjukan besarnya perbedaan kelas-kelas sosial berdasarkan akses dan
kontrol mereka terhadap sistem kultural. Artinya, kelas atas mampu mampu
mengembangkan simbol dan sistem ideologi yang mampu mereka paksakan terhadap
terhadap kelas sosial lebih rendah. Kelas sosial lebih rendah kurang mampu
mengembangkan sistem simbol, bahkan kebanyakan simbol yang ada mungkin telah di
paksakan kepada mereka oleh kelas yang berkuasa.
Collins memandang
Weber bekerja di dalam, dan mengembangkan, teori stratifikasi Marx. Alasannya,
pertama, Weber pernah mengakui adanya perbedaan bentuk konflik yang menimbulkan
sistem stratifikasi beraneka segi (misalnya, kelas, status, dan kekuasaan).
Kedua, Weber mengembangkan teori organisasi ke tingkat tinggi, yang menurut
pandangan Collins merupakan arena lain dari konlik kepentingan. Pemikiran Weber
juga penting bagi Collins karena penekanannya pada negara sebagai agen yang
mengontrol cara penggunaan kekerasan, yang menggeser perhatian dari konflik
ekonomi (alat produksi) ke konflik negara. Ketiga, Weber diakui Collins karena
memahami arena sosial produk emosional ini, seperti produk lainnya, dapat di
gunakan sebagai senjata dalam konflik sosial.
Teori Stratiikasi
Konflik. Dengan latar belakang di atas, Collins kembali kependekatan konflik
stratifikasinya sendiri yang lebih banyak kesamaannya dengan teori fenomenologi
dan etnometodologi ketimbang dengan teori Marxian atau Weberian. Collins
bertolak dari beberapa asumsi. Orang di pandang mempunyai sifat sosial
(sociable), tetapi juga terutama mudah berkonflik dalam hubungan sosial mereka.
Konflik mungkin terjadi dalam hubungan sosial karena “penggunaan kekerasan”
yang selalu dapat di pakai seseorang atau banyak orang dalam lingkungan
pergaulan. Collins yakin bahwa orang berupaya untuk memaksimalkan “status
subjektif” mereka dan kemampuan untuk berbuat demikian tergantung pada sumber
daya mereka maupun sumber daya orang lain dengan siapa mereka berurusan. Ia
melihat orang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri; jadi benturan mungkin
terjadi karena kepentingan-kepentingan itu pada dasarnya saling bertentangan.
Pendekatan konflik
terhadap stratifikasi dapat diturunkan menjadi tiga prinsip. Pertama, Collins
yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri. Kedua,
orang lain mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman
subjektif seorang individu. Ketiga, orang lain sering mencoba mengontrol orang
yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadinya konflik
antarindividu.
Berdasarkan pendekatan ini, Collins mengembangkan lima
prinsip analisis konflik yang diterapkan terhadap stratifikasi sosial. Pertama,
Collins yakin bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan
nyata ketimbang pada formulasi abstrak. Kedua, Collins yakin bahwa teori
konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang
memengaruhi interaksi. Ketiga, Collins menyatakan bahwa dalam situasi
ketimpangan, kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mencoba
mengeksploitasi kelompok yang bersumber dayanya terbatas. Keempat, Collins
menginginkan teoritisi konflik melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan
gagasan dari sudut pandang kepentingan, sumber daya dan kekuasaan. Kelima,
Collins membuat komitmen tegas untuk melakukan studi ilmiah tentang
stratifikasi dan setiap aspek kehidupan sosial lainnya.
C. Geng motor dan contoh konflik kasusnya
pendekatan teori Randall Collins
Dengan tiga prinsip Collins. Yaitu pertama, Collins
yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri. Kedua,
orang lain mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman
subjektif seorang individu. Ketiga, orang lain sering mencoba mengontrol orang
yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadinya konflik
antarindividu. Maka saya sebagai penulis
akan memberikan contoh kasus yang berkaitan dengan
teori Collins yaitu konflik geng motor. bersaing untuk mempertahankan harga
diri antarindividu, bahkan persaingan status antarkelompok, semacam geng motor,
terlepas dari motifnya.
Geng motor adalah
kumpulan orang-orang pecinta motor yang doyan kebut-kebutan, tanpa membedakan
jenis motor yang dikendarai. Perlu dibedakan antara geng motor dengan Club
Motor. Club Motor biasanya mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis
motor tertentu dengan perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley
Davidson Club), Scooter (kelompok pecinta Vesva), kelompok
Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio. Ada juga Brotherhood
kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau soal aksi jalanan, semuanya sama
saja. Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja jalanan, tak mau didahului, apalagi
disalip oleh pengendara lain.[3]
Ciri-ciri geng motor :
- membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau udah dari pabriknya seperti samurai, badik hingga bom Molotov untuk membuat keributan atau melindungi dirinya.
- biasanya hanya nongol malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta berisik.
- jauh dari kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara membunuh masal.
- anggota nya lebih banyak ke pada kaum lelaki yang sangar, tukang mabok, penjudi dan hobi membunuh, sekalipun tidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut dan cewek yang ikut geng motor biasanya cuma dijadikan budak nafsu cowok masal.
- motor yang mereka gunakan bodong, gak ada spion, sein, hingga lampu utama. Yang penting buat mereka adalah kencang dan mampu melibas orang yang lewat.
- visi dan misi mereka jelas, hanya membuat kekacauan dan ingin menjadi geng terseram diantara geng motor lainnya hingga sering terjadi tawuran diatas motor.
- tidak terdaftar dikepolisian atau masyarakat setempat.
- kalau nongkrong, lebih suka ditempat yang jauh dari kata terang. Lebih memilih tempat sepi, gelap dan bau busuk.
- kalau pelantikan anak baru biasanya bermain fisik, disuruh berantem dan menenggak minuman keras ampe jackpot (muntah-muntah).
Contoh kasus[4]
Geng Motor Picu Konflik
Sosial
Headlines|Sun,Apr15,2012at13:10|
Jakarta,matanews.com Neta S Pane INDONESIA Police Watch (IPW) menilai patroli
pemberantasan geng motor dan balapan liar yang dilakukan aparat kepolisian
masih hangat-hangat tai ayam. Pembiaran yang terjadi selama ini telah
menimbulkan konflik sosial, memicu dendam dan aksi main hakim sendiri, seperti
yang terjadi Jumat kemarin. “Jika situasi ini tidak segera dikendalikan,
tentu akan memicu konflik yang lebih besar di masyarakat,” ujar Ketua Presidium
IPW Neta S Pane di Jakarta, Minggu 15 April 2012.
Menurut Neta,
pembiaran itu terlihat dari data yang dihimpun IPW, tahun 2009 di wilayah Polda
Metro Jaya terdapat 20 lokasi tempat balapan liar, dan 2012 meningkat menjadi
80 lokasi. “IPW mendata ada tiga perilaku buruk geng motor, yakni balapan liar,
judi alias taruhan, tawuran atau pengeroyokan, seperti yang dialami seorang
anggota TNI AL di Kemayoran,” ujarnya. “Tahun 2009 ada 68 orang tewas di arena
balapan liar, baik akibat kecelakaan maupun pengroyokan. Tahun 2010 ada 62
orang tewas, 2011 ada 65 tewas,” tambahnya. Menurutnya, balapan liar kerap
mengancam keselamatan masyarakat pengguna lalulintas. Apalagi mereka memiliki 5
lokasi yg menantang, yakni Warung Buncit dengan tikungan tajam, turunan, dan
tanjakan. Rawapanjang Bekasi jalur lurus yang penuh truk dan kontainer,
Kemayoran jalur panjang dan rata, Klender jalur sempit dan gelap, Asia Afrika
jalur pendek dan ada tikungan tajam di bundaran, Pondok Indah jalur bergengsi.
Dijelaskannya,
dilokasi tersebut, bursa taruhannya cukup mengejutkan, yakni Rp 1 juta hingga
Rp 5 juta. Sedangkan di pinggiran Jakarta antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta.
Jika memakai joki, pasar taruhan bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 25 juta.
“Sejumlah petaruh patungan dan joki mendapat 10 sampai 25 persen, jika menang.
Tragisnya, anggota geng motor di arena balapan liar ini sangat muda, antara 14
hingga 22 tahun. Keterlibatan bengkel tertentu dalam balapan liar ini sangat
menonjol,” kata Neta.(hms) .
Polisi Harus Ungkap Kasus Geng Motor Brutal Headlines | Sun, Apr 15,
2012 at 00:43 | Jakarta, matanews.com
NetaS Pane POLDA Metro Jaya
harus segera mengungkap kasus kebrutalan yang dilakukan oleh geng motor.
“Dengan
adanya penyerangan brutal yang dilakukan geng motor dari orang-orang yang
diduga sebagai oknum TNI pada Jumat dinihari (13/4) ada beberapa hal yang harus
dilakukan Polda Metro,” kata Ketua Presidium LSM Indonesia Police Watch (IPW)
Neta S Pane di Jakarta, Sabtu 14 April 2012.
Pertama,
segera berkordinasi dengan Pangdam Jaya agar serangan brutal itu tidak terjadi
dan menangkap oknum-oknum yang menjadi penyerang, ujarnya. “IPW berharap
Pangdam Jaya mengungkap keterlibatan oknum TNI secara transparan. Sebab selama
ini citra TNI di masyarakat sangat positif. Jangan sampai akibat ulah oknum
yang tidak bertanggung jawab citra tersebut tercoreng dan masyarakat trauma,”
kata Neta.
Kedua, polisi
harus segera mengusut kasus penganiayaan aparat TNI hingga tewas di Kemayoran
dan penembakan dua aparat TNI di kawasan Pasar Pramuka secara cepat, tepat dan
tuntas, agar tidak muncul solidaritas korps yang berlebihan yang memicu aksi
balas dendam dan main hakim sendiri dari rekan-rekan korban.
“Ketiga
membubarkan arena-arena balapan liar di Jakarta secara konsisten dan memproses
secara hukum para pembalap liar, meskipun mereka anak pejabat,” kata Neta.Sikap
tegas polisi membasmi arena balapan liar pasti akan didukung publik, bahkan
para pejabat yang membiarkan anaknya menjadi pelaku balapan liar pasti akan
dikecam publik, katanya. Sementara itu, menangapi kasus kebrutalan geng motor di
Jakarta Utara Jumat kemarin, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan
(Menko Polhukam) Joko Suyanto menyatakan bahwa Polri bersama POM TNI dan POMAL
harus segera mencari dan menemukan pelaku tindak kriminal yang disebut sebagai
geng motor.”Siapapun pelakunya apakah itu warga sipil atau anggota TNI tidak
ada yang kebal hukum, dan harus segera diungkap, ditangkap dan dibawa ke meja
hijau,” kata Joko.(ant/hms).
Kontras Kecam Geng Motor Brutal
Headlines | Sun, Apr 15, 2012 at
00:04 | Jakarta, matanews.com

KOMISI untuk
Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan
(KontraS) mengecam kebrutalan geng motor di sejumlah lokasi di wilayah DKI
Jakarta pada Jumat dini hari (13/4), bahkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung
S Rajab dinilai gagal melindungi warga Jakarta.
“Kami
menyimpulkan, Kapolda Metro Jaya dan jajarannya gagal melindungi warga Jakarta
dan tidak melakukan kerja penegakan hukum atas praktik kekerasan yang terjadi
sebelumnya, seperti penganiayaan hingga mengakibatkan meninggalnya kelasi
Arifin di Kemayoran pada Minggu 31 Maret 2012,” kata Koordinator Kontras, Haris
Azhar di Jakarta, Sabtu 14 April 2012.
Pihaknya juga
menyayangkan keputusan melibatkan POMAL dalam mendalami kasus penyerangan
massal dan brutal dini hari lalu. Disatu sisi Polda Jaya tidak berani
mengungkapkan identitas pelaku, tapi disisi lain justru mengajak POMAL
melakukan penyelidikan. Jelas bahwa brutalitas yang merusak, mencederai hingga
luka dan meninggal adalah kejahatan terhadap kamtibmas dan sudah selayaknya
Polisi yang bertanggung jawab untuk mencegah serta melakukan penegakan hukum
atas hal tersebut.
“Bukan POMAL tugasnya hanya
untuk kejahatan-kejahatan di dalam militer. Tindakan ini justru membuka ruang
militer Indonesia masuk dalam urusan kehidupan sipil. Patut disayangkan,” ujar
Haris.
Oleh karena
itu, KontraS mendesak Polda Metro Jaya harus berani dan lebih profesional dalam
melakukan penegakan hukum, terutama terhadap tindakan-tindakan brutal dan
premanistik.
KontraS juga
meminta agar DPR (Komisi I) untuk menegur Presiden, Kapolri dan Panglima TNI
agar tidak mencampuradukan urusan kamtibmas dengan unsur/entitas militeristik,
dengan cara melibatkan POMAL dalam urusan ini.
Selain itu,
KontraS meminta adanya upaya pemulihan yang maksimal, di mana Polisi harus
menangkap semua pelaku kejahatan yang melukai dan membunuh sejumlah orang dalam
beberapa hari terakhir.
“Jangan hanya
bisa menangkap pembunuh anggota TNI AL saja. Akan tetapi harus seimbang. Selain
itu, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial harus memberikan jaminan dan
santunan biaya-biaya akibat brutalitas ini,” tutur Haris.
Sebelumnya
diberitakan, gerombolan geng motor itu menyerang dan merusak toko swalayan
7-Eleven di Salemba, Jumat (13/4) sekitar pukul 01.45 WIB. Kelompok yang
beranggotakan puluhan laki-laki berbadan tegap berambut cepak dan menggunakan
sepeda motor itu menebar teror berdarah dari Jakarta Utara hingga Jakarta
Pusat.
Lokasi
pertama yang mereka sasar adalah pintu gerbang PT Dok Bayu Bahari di Jln.
Industri Pelabuhan pada pukul 01.30 WIB. Di sana para anggota gerombolan
tersebut melukai dua orang, termasuk petugas keamanan perusahaan. Selain itu,
mereka juga merusak satu unit mobil, dan kemudian melempari kantor Polsek
Tanjungpriok.
Berdasarkan
data yang diperoleh KontraS, pada Jumat dini hari (13/4) terjadi penembakan
terhadap Kelasi Sugeng Riadi dari Lembaga Farmasi Angkatan Laut (AL) yang
terkena tembakan di telinga kanan, dan Prada Akbar Fidi Aldian dari Yonif Linud
503 Kostrad, tertembak di dada hingga tembus, saat ini dirawat di RSPAD.
Sementara
itu, masih di waktu yang sama di Jalan Pramuka, seorang warga sipil bernama
Anggi Darmawan (19) tewas dianiaya oleh sekitar 200-an anggota geng motor
berambut cepak dan berbadan tegap.(ant/hms).
Dari
contoh kasus diatas bahwa dapat saya paparkan tentang konflik komunitas geng
motor melalui pendekatan teori konflik Randall
Collins lebih kepada konflik individual yang terjadi karena adanya
kekuasaan dan kekuatan untuk saling mempengaruhi orang lain dan terjadilah
konflik antar individu, selain itu faktor ekonomi seseorang yang belum
terpenuhi maka dari itu individu geng motor nekat untuk kebut-kebutan demi
kemenangan yaitu menperoleh uang, selain itu mereka mabuk-mabukan untuk
menghilangkan stress pikiran, geng motor pun mencuri karena kekurangan uang.
Mereka mempunyai rasa solidaritas ketika temannya di bunuh dan mereka pun dapat
membalas dendam. Dan peran serta perhatian keluarga yang kurang terhadap
anak-anak Geng Motor. Saya juga akan paparkan tentang geng motor itu.
Sekarang geng-geng motor sudah berada dalam
taraf berbahaya, Geng Motor semula hanya semacam perkumpulan pecinta motor atau
'motors club' saja. Tapi karena tidak ada pembinaan dan penanggung jawabnya
maka kemudian tumbuh menjadi liar, tidak terkontrol dan tak terkendalikan tak
segan mereka tawuran dan tak merasa berdosa para geng tersebut membunuh dan kebanyakan
anggota geng motor ogah pake perangkat safety seperti helm, sepatu dan jaket.

Kemungkinan
juga individu yang ikut dalam geng motor dikarenakan cita-cita
dan keinginan tidak tercapai; kegagalan; kehilangan orang yang dicintai;
kehilangan pekerjaan; orang tua galak atau pola asuh yang otoriter; serta
mendapat tindak kekerasan termasuk kebrutalan di/ dari lingkungan sekitar. Dan orang tua dari anak Geng Motor terlalu fokus
mengejar ekonomi dan - bisa saja tidak disengaja - terpaksa melupakan atau
menomorduakan fungsi diri sebagai orang tua yang wajib membimbing,
memperhatikan, mendampingi, menjadi teman bagi anak-anak mereka.
Itulah peran orang tua yang hilang dari masyarakat
sekarang ini. Tak heran bila akhirnya anak mencari pembimbing, pemerhati,
pendamping, dan teman dari luar rumah. Kalau yang ditemukan di luar rumah bagus
atau positif, tidak masalah. Persoalannya, kebanyakan yang di luar rumah itu
negatif. Bertemulah mereka dengan kawan senasib yang harus mencari juga. Itulah
generasi yang akan kehilangan arah hidup akibat tidak ada cinta dari orang tua.
Cinta dimaksudkan sebagai kewajiban
keluarga untuk membimbing, memperhatikan, mendampingi,
dan menjadi teman dari anak-anak mereka. Jadi, Geng Motor akarnya tetap dari keluarga. Serta Polisi harus segera membubarkan arena-arena
balapan liar di Jakarta dan di semua
wilayah secara konsisten dan memproses secara hukum
para pembalap liar.

BAB
III
PENUTUP
Tokoh utama
dalam upaya membangun teori konflik yang lebih sintesis dan integratif adalah
Randall Collins. Conflict Sosiology
karya Collins (1975) sangat integratif karena jauh lebih berorientasi mikro
ketimbang teori konflik makro. Collins memilih memusatkan perhatian pada
stratifikasi sosial karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh
begitu banyak ciri kehidupan, seperti “kekayaan,
politik, karier, keluarga, klub, komunitas, gaya hidup” (1975:49). Dengan tiga prinsip Collins. Yaitu pertama,
Collins yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri.
Kedua, orang lain mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengontrol
pengalaman subjektif seorang individu. Ketiga, orang lain sering mencoba mengontrol
orang yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadinya konflik
antar individu. Konflik komunitas geng motor melalui pendekatan teori
konflik Randall Collins lebih
kepada konflik individual yang terjadi karena adanya kekuasaan dan kekuatan untuk
saling mempengaruhi orang lain dan terjadilah konflik antar individu, selain
itu faktor ekonomi seseorang yang belum terpenuhi maka dari itu individu geng
motor nekat untuk kebut-kebutan demi kemenangan yaitu menperoleh uang, selain
itu mereka mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress pikiran, geng motor pun
mencuri karena kekurangan uang. Mereka mempunyai rasa solidaritas ketika
temannya di bunuh dan mereka pun dapat membalas dendam. Dan peran serta
perhatian keluarga yang kurang terhadap anak-anak Geng Motor
Daftar Pustaka
George Ritzer-Douglas J.Goodman. Teori Sosiologi Modern . Jakarta: Kencana
http://www.artikelk3.com/topik/konflik+geng+motor.html (diakses pada
tanggal 29 April 2012)
http://doktorpaisal.wordpress.com/2009/12/20/biografi-randall-collins/( diakses pada
tanggal 29 April 2012)
[3] http://arik_mgt.student.fkip.uns.ac.id/2009/06/19/26/
[4] http://www.artikelk3.com/topik/konflik+geng+motor.html


0 komentar:
Posting Komentar