Sabtu, 15 Desember 2012

Posted by Lita jamallia On 04.41

GENG MOTOR DENGAN PENDEKATAN TEORI KONFLIK RANDALL COLLINS
Disusun guna memenuhi tugas uts:
Mata kuliah:  Teori Sosiologi
Disusun oleh:
Lita jamallia        (1110015000053)

KONSENTRASI SOSIOLOGI-ANTROPOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FITK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar belakang
Pertemuan antar geng sering jadi saat yang paling rawan gesekan. Nyawa berguguran dan melahirkan dendam tak berujung. Awalnya geng motor hanya kumpulan anak-anak remaja yang hobi ngebut dengan motor, baik siang maupun malam hari. Mereka melakukan balapan motor alias trek-trekan di jalanan umum. Tapi kini, geng motor kini sudah meresahkan masyarakat, karena sepak terjangnya makin beringas. Kelompok ini sekarang sudah menyebar ke berbagai wilayah. Untuk mengetahui, kenapa mereka berubah brutal dan jahat, kita mesti lebih dulu mengetahui latarbelakang organisasinya dan doktrin yang diterapkan saat mereka direkrut yang disebut sumpah. Setiap anggota geng motor dalam sumpahnya, harus berani melawan polisi berpangkat komisaris ke bawah. Anggota harus berani melawan orangtuanya sendiri. Sumpah terakhir, anggota harus bernyali baja dalam melakukan kejahatan. Dan konflik geng motor ini kita paparkan melalui pendekatan teori Randall Collins.
1.2    Perumusan masalah
A. Bagaimana Biografi Randall Collins?
B. Bagaimana teori Randall Collins?
C. Apa itu geng motor dan contoh konflik kasusnya dengan pendekatan teori Randall    Collins?
1.3    Tujuan
A. Kita dapat mengetahui Biografi Randall Collins.
B. Kita dapat mengetahui teori Randall Collins.
C. Kita juga dapat mengetahui apa itu geng motor dan contoh konflik kasusnya serta penyebabnya.

BAB II
PEMBAHASAN


A. BIOGRAFI  RANDALL COLLINS

Aku mulai menjadi sosiologi sejak muda. Ayahku bekerja di intelejensi militer di akhir perang dunia II, kemudian masuk ke Departemen Luar Negri Amerika sebagai pejabat dinas urusan Luar Negri. Salah satu kenang – kenanganku paling awal adalah kedatanganku di Berlin untuk bergabung dengan ayah di Musim panas tahun 1945. Aku dan saudara wanitaku tak dapat bermain di taman karena di situ taman ranjau darat dan suatu hari serdadau rusia datang ke halaman belakang rumah kami untuk menggali kuburan korban perang. Kejadian ini memberiku perasaan bahwa konflik adalah penting bahwa kekerasan mungkin.
Kepindahan tugas ayahku selanjutnya membawaku ke Uni Soviet, kembali ke Jerman (kemudian di bawah pendudukan militer Amerika), Spanyol dan Amerika selatan. Di antara melaksanakan tugas luar negri kami tinggal di Amerika, dengan demikian aku kembali dan seterusnya hidup antara menjadi seorang anak Amerika biasa dan menjadi tamu istimewa luar negri. Pengalaman ini menimbulkan sejumlah sikap tertentu dalam memandang hubungan sosial. Ketika aku makin dewasa kehidupan Diplomatis kelihatan makin kurang dramatis dan makin menyerupai sebuah lingkaran etika formal tak berujung , dimana orang tak pernah berbicara tentang persoalan politik penting yang sedang terjadi; pemisahan antara kerahasiaan di belakang layar dan seremonial di depan layar menyebabkan aku siap menghargai Ervving gofman.
Ketika aku sudak terlalu dewasa untuk menyertai orang tuaku di luat negri aku di kirim ke SMU swasta di New England. Ini mengajariku realitas sosiologi besar lain nya; keadaan stratifikasi sosial. Banyak di antara siswa lain berasal dari The Sicial register (daftar orang terkemuka dalam masyarakat) dan aku mulai menduka bahwa ayahku tak sama kelas sosialnya dengan duta besar dan Mentri muda yang anak – anak mereka kadang – kadang aku temui.
Aku kemudian belajar di Harvad di mana aku berganti jurudan enam kali. Aku belajar kesustraan dan menjadi seorang dramawan dan penulis novel. Aku pindah dari matematika ke filsafat; aku membaca karya Freud dan merencanakan menjadi Psikiatris. Akhirnya aku memilih jurusan hubungan sosial dan antropologi. Setelah mengambil kuliah Talcott Parson aku masuk jurusan hubungan sosial. Kuliah Parson meliputi bidang kajian yang sangat luas, mulai analisa tingkat mikro ke tingkat makro dan akhirnya menjelaskan sejarah dunia . Tak banyak yang kudapat dari teori Parson kecuali gagasan tentang apa yang harus di pelajari oleh sosiologi. Ia pun memberiku beberapa bagian penting tentang model kultural. Parson mengajariku bahwa Max Weber kurang perhatiannya mengenai etika protestan ketimbang dirinya sendiri yang membandingkan dinamika seluruh agama yang ada di dunia dan Durkhaime yang mengajukan pertanyaan kunci ketika ia mencoba menjelaskan basis prakontraktual dari ketertiban sosial.
Kupikir aku ingin menjadi seorang Psikolog dan belajar di Starford, tetapi setelah setahun menerima ajaran menyakinkan bahwa sosiologilah tempat yang lebih baik untuk mempelajari kehidupan manusia, aku berganti Universitas dan di musim panas tahun 1964 aku tiba di Berkeley dan ketika itu juga bergabung dengan gerakan hak – hak sipil. Musim gugur tahun ini juga muncul gerakan kebebasan berbicara muncul di kampus kami. Kami mantan aktor gerakan aksi duduk mulai tertarik kepada faktor penyebab lain yang membangkitkan emosi ketika orang dapat menciptakan solidaritas bersama ratusan orang lain.
Aku mencoba membuat analisa sosiologi konflik pada saat kami mengalaminya bersama. Ketika perang Vietnam berlangsung dan konflik rahasia dalam negri (di Amerika) meningkat, gerakan oposisi tak lama lagi tegaki prinsip tanpa kekerasannya:kebanyakan mahasiswa menjadi kecewa, putus sekolah dan beralih ke gaya hidup hipis. Bila anda tak kehilangan kesadaran sosiologis anda. Aku mempelajari karya Erving Gofman dan Herbert Blumer (ketika itu keduanya adalah Profesar Berkeley) dan mulai memahami mengapa seluruh aspek masyarakat, konflik stratifikasi, dan lain – lainya, di bangun dari ritual interaksi kehidupan sehari hari kita.
Aku pernah merencanakan menjadi profesor, namun hingga kini aku mengajar di berbagai universitas. Aku mencoba menghimpun kajian sosiologi dalam satu buku, Conflik sociology (1975) tetapi gagal dan aku menulis buku lainya, The Credintial Society (1979) untuk menjelaskan kemerosotan sistem status di mana kita semua terperangkap di dalamnya. Untuk membuat kajian sendiri secara serius, aku meninggalkan dunia akademis dan untuk sementara kehidupanku di topang oleh hasil menulis novel dan buku ajar. Akhirnya setelah ditarik oleh beberapa teman, aku kembali mengajar. Bidang kajianku sangat luas mulai dari gambar baru sejarah dunia turun ke rincian mikro emosi sosial. Istri ke duaku judith mcconnell, adalah salah seorang yang paling penting pengaruhnya terhadap kehidupanku. Ia mengorganisir pengacara wanita untuk membongkar rintangan diskriminansi dalam profesi hukum dan kini aku belajar darinya mengenai politik di belakang layar pengadilan tinggi. Dalam sosiologi dan dalam masyarakat makin banyak yang harus di kerjakan.[1]

B. Teori konflik Randall Collins yang lebih Integratif[2]

            Tokoh utama dalam upaya membangun teori konflik yang lebih sintesis dan integratif adalah Randall Collins. Conflict Sosiology karya Collins (1975) sangat integratif karena jauh lebih berorientasi mikro ketimbang teori konflik makro Dahrendrof dan yang lainnya. Mengenai karya awalnya ini, Collins mengatakan: “Kontribusi utama untuk teori konflik adalah menambah analisis tingkat mikro terhadap teori yang bertingkat makro ini. Saya terutama mencoba menunjukkan bahwa stratifikasi dan organisasi didasarkan atas interaksi kehidupan sehari-hari” (1990:72).
            Dari awal Collins (1975) menjelaskan bahwa perhatiannya terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis; yakni, dia tidak mengawali dengan pandangan politis bahwa konflik adalah baik atau buruk. Dia mengatakan bahwa dia memilih konflik sebagai fokus berdasarkan landasan yang realistik, yakni bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial.
            Berbeda dari teoritisi lainnya yang memulai dan tetap menganalisis level kemasyarakatan, Collins mendekati konflik dari sudut pandang individu karena akar teoritisnya terletak dalam fenomenologi dan etnometodologi. Meski ia lebih menyukai teori berskala kecil dan bertingkat individual, Collins menyadari bahwa “sosiologi tidak akan berhasil hanya berdasarkan analisis tingkat mikro saja” (1975:11). Teori konflik tak bisa berbuat apa-apa tanpa analisis tingkat kemasyarakatan. Tetapi, sementara sebagian besar teoritisi konflik percaya bahwa struktur sosial berada di luar (eksternal)- dan memaksa- pihak aktor, Collins cenderung melihat struktur sosial tak dapat di pisahkan dari aktor yang membangunnya, dan yang mana pola interaksinya adalah esensi struktur sosial. Collins cenderung melihat struktur sosial lebih sebagai pola interaksi ketimbang sebagai kesatuan eksternal dan imperatif. Selain itu, sementara sebagian besar teoritisi konflik melihat aktor dipaksa oleh kekuatan eksternal, Collins bependapat bahwa aktor terus-menerus menciptakan ulang organisasi sosial.
            Collins melihat teori Marxian sebagai “titik tolak” teori konflik,tetapi teori Marxian menurutnya mengandung berbagai masalah. Pertama, seperti fungsionalisme struktural, teori Marxian mengandung banyak ciri ideologis, ciri yang ingin ia hindarkan. Kedua, ia cenderung melihat orientasi Marx dapat diturunkan ketingkat analisis bidang ekonomi, meski ini adalah suatu kritikan tak beralasan terhadap teori Marx. Teori konfliknya sebenarnya sedikit sekali dipengaruhi Marxian dan justru lebih banyak dipengaruhi Weber, Durkheim dan terutama oleh fenomenologi dan etnometodologi.
            Strafikasi Sosial. Collins memilih memusatkan perhatian pada stratifikasi sosial karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh begitu banyak ciri kehidupan, seperti “kekayaan, politik, karier, keluarga, klub, komunitas, gaya hidup” (1975:49). Menurut Collins teori-teori besar telah “gagal” menerangkan stratifikasi sosial. Teori besar yang dimaksud Collins adalah teori fungsionalisme  struktural dan teori Marxian. Dia mengkritik teori Marxian, misalnya dengan menyatakan sebagai “penjelasan monokausal untuk kehidupan multikausal” (Collins, 1975:49). Ia memandang teori Weber sebagai “antisistem”. Teori Weber berguna bagi Collins, tetapi “upaya sosiologi fenomenologi untuk melandasi semua konsep yang digunakan mengamati kehidupan sehari-hari” (Collins, 1975:53) adalah sangat penting bagi Collins karena sasaran utamanya dalam studi stratifikasi sosial adalah berskala kecil. Menurut pandangannya, stratifikasi sosial, seperti semua struktur sosial lainnya, dapat dikurangi ke tingkat individual dalam kehidupan sehari-hari yang saling berinteraksi menurut cara yang terpola.
            Meski komitmen terakhinya tertuju pada mikro sosiologi stratifikasi, Collins memulai analisisnya dari Marx dan Weber sebagaiu pondasi karyanya sendiri. Ia memulai dengan prinsip Marxian dengan menyatakan bahwa prinsip Maxian itu “ dengan modipikasi tertetu menyediakan basic untuk membangun teori konfliknya tentang stratifikasinya “ ( Collins, 1975”58).
Pertama. Collins berpendapat bahwa pandangan Marx yang menyatakan kondisi material yang terlibaat dalam pencarian nafkah dalam masyarakat moderen adalah faktor yang menentukan gaya hidup seseorang. Basis upaya mencari nafkah menurut Marx adalah hubungan perseorangan dengan kekayan pribadi. Orang yang memiliki atau mengontrol kekayaan akan mampu menafkahi hidupnya dengan cara yang jauh lebih memuaskan ketimbang orang yang tidak memilki kekayaan dan harus menjual tenaga kerjanya untuk mendapatkan akses alat-alat produksi.
            Kedua, menurut perspektif Marxian kondisi material tak hanya mempengaruhi cara individu mencari nafkah, tetapi juga memengaruhi ciri-ciri kelompok sosial dalam kelas sosial yang berbeda. Kelas sosial dominan lebih mampu mengembangkan kelompok sosial yang lebih padu, yang terikat bersama oleh jaringan komunikasi yang kompleks, ketimbang kelas sosial subordinat.
            Terakhir, Collins menyatakan bahwa Marx juga menunjukan besarnya perbedaan kelas-kelas sosial berdasarkan akses dan kontrol mereka terhadap sistem kultural. Artinya, kelas atas mampu mampu mengembangkan simbol dan sistem ideologi yang mampu mereka paksakan terhadap terhadap kelas sosial lebih rendah. Kelas sosial lebih rendah kurang mampu mengembangkan sistem simbol, bahkan kebanyakan simbol yang ada mungkin telah di paksakan kepada mereka oleh kelas yang berkuasa.
            Collins memandang Weber bekerja di dalam, dan mengembangkan, teori stratifikasi Marx. Alasannya, pertama, Weber pernah mengakui adanya perbedaan bentuk konflik yang menimbulkan sistem stratifikasi beraneka segi (misalnya, kelas, status, dan kekuasaan). Kedua, Weber mengembangkan teori organisasi ke tingkat tinggi, yang menurut pandangan Collins merupakan arena lain dari konlik kepentingan. Pemikiran Weber juga penting bagi Collins karena penekanannya pada negara sebagai agen yang mengontrol cara penggunaan kekerasan, yang menggeser perhatian dari konflik ekonomi (alat produksi) ke konflik negara. Ketiga, Weber diakui Collins karena memahami arena sosial produk emosional ini, seperti produk lainnya, dapat di gunakan sebagai senjata dalam konflik sosial.
            Teori Stratiikasi Konflik. Dengan latar belakang di atas, Collins kembali kependekatan konflik stratifikasinya sendiri yang lebih banyak kesamaannya dengan teori fenomenologi dan etnometodologi ketimbang dengan teori Marxian atau Weberian. Collins bertolak dari beberapa asumsi. Orang di pandang mempunyai sifat sosial (sociable), tetapi juga terutama mudah berkonflik dalam hubungan sosial mereka. Konflik mungkin terjadi dalam hubungan sosial karena “penggunaan kekerasan” yang selalu dapat di pakai seseorang atau banyak orang dalam lingkungan pergaulan. Collins yakin bahwa orang berupaya untuk memaksimalkan “status subjektif” mereka dan kemampuan untuk berbuat demikian tergantung pada sumber daya mereka maupun sumber daya orang lain dengan siapa mereka berurusan. Ia melihat orang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri; jadi benturan mungkin terjadi karena kepentingan-kepentingan itu pada dasarnya saling bertentangan.
            Pendekatan konflik terhadap stratifikasi dapat diturunkan menjadi tiga prinsip. Pertama, Collins yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri. Kedua, orang lain mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subjektif seorang individu. Ketiga, orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadinya konflik antarindividu.
Berdasarkan pendekatan ini, Collins mengembangkan lima prinsip analisis konflik yang diterapkan terhadap stratifikasi sosial. Pertama, Collins yakin bahwa teori konflik harus memusatkan perhatian pada kehidupan nyata ketimbang pada formulasi abstrak. Kedua, Collins yakin bahwa teori konflik stratifikasi harus meneliti dengan seksama susunan material yang memengaruhi interaksi. Ketiga, Collins menyatakan bahwa dalam situasi ketimpangan, kelompok yang mengendalikan sumber daya kemungkinan akan mencoba mengeksploitasi kelompok yang bersumber dayanya terbatas. Keempat, Collins menginginkan teoritisi konflik melihat fenomena kultural seperti keyakinan dan gagasan dari sudut pandang kepentingan, sumber daya dan kekuasaan. Kelima, Collins membuat komitmen tegas untuk melakukan studi ilmiah tentang stratifikasi dan setiap aspek kehidupan sosial lainnya.

C. Geng motor dan contoh konflik kasusnya pendekatan teori Randall Collins

Dengan tiga prinsip Collins. Yaitu pertama, Collins yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri. Kedua, orang lain mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subjektif seorang individu. Ketiga, orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadinya konflik antarindividu. Maka saya sebagai penulis akan memberikan contoh kasus yang berkaitan dengan teori Collins yaitu konflik geng motor. bersaing untuk mempertahankan harga diri antarindividu, bahkan persaingan status antarkelompok, semacam geng motor, terlepas dari motifnya.
Geng motor adalah kumpulan orang-orang pecinta motor yang doyan kebut-kebutan, tanpa membedakan jenis motor yang dikendarai. Perlu dibedakan antara geng motor dengan Club Motor. Club Motor biasanya mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu dengan perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter (kelompok pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio. Ada juga Brotherhood kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau soal aksi jalanan, semuanya sama saja. Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja jalanan, tak mau didahului, apalagi disalip oleh pengendara lain.[3]
Ciri-ciri geng motor :
  1. membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau udah dari pabriknya seperti samurai, badik hingga bom Molotov untuk membuat keributan atau melindungi dirinya.
  2. biasanya hanya nongol malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta berisik.
  3. jauh dari kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara membunuh masal.
  4. anggota nya lebih banyak ke pada kaum lelaki yang sangar, tukang mabok, penjudi dan hobi membunuh, sekalipun tidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut dan cewek yang ikut geng motor biasanya cuma dijadikan budak nafsu cowok masal.
  5. motor yang mereka gunakan bodong, gak ada spion, sein, hingga lampu utama. Yang penting buat mereka adalah kencang dan mampu melibas orang yang lewat.
  6. visi dan misi mereka jelas, hanya membuat kekacauan dan ingin menjadi geng terseram diantara geng motor lainnya hingga sering terjadi tawuran diatas motor.
  7. tidak terdaftar dikepolisian atau masyarakat setempat.
  8. kalau nongkrong, lebih suka ditempat yang jauh dari kata terang. Lebih memilih tempat sepi, gelap dan bau busuk.
  9. kalau pelantikan anak baru biasanya bermain fisik, disuruh berantem dan menenggak minuman keras ampe jackpot (muntah-muntah).
Contoh kasus[4]
Geng Motor Picu Konflik Sosial
Headlines|Sun,Apr15,2012at13:10| Jakarta,matanews.com Neta S Pane INDONESIA Police Watch (IPW) menilai patroli pemberantasan geng motor dan balapan liar yang dilakukan aparat kepolisian masih hangat-hangat tai ayam. Pembiaran yang terjadi selama ini telah menimbulkan konflik sosial, memicu dendam dan aksi main hakim sendiri, seperti yang terjadi Jumat kemarin. “Jika situasi ini tidak segera dikendalikan, tentu akan memicu konflik yang lebih besar di masyarakat,” ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane di Jakarta, Minggu 15 April 2012.
Menurut Neta, pembiaran itu terlihat dari data yang dihimpun IPW, tahun 2009 di wilayah Polda Metro Jaya terdapat 20 lokasi tempat balapan liar, dan 2012 meningkat menjadi 80 lokasi. “IPW mendata ada tiga perilaku buruk geng motor, yakni balapan liar, judi alias taruhan, tawuran atau pengeroyokan, seperti yang dialami seorang anggota TNI AL di Kemayoran,” ujarnya. “Tahun 2009 ada 68 orang tewas di arena balapan liar, baik akibat kecelakaan maupun pengroyokan. Tahun 2010 ada 62 orang tewas, 2011 ada 65 tewas,” tambahnya. Menurutnya, balapan liar kerap mengancam keselamatan masyarakat pengguna lalulintas. Apalagi mereka memiliki 5 lokasi yg menantang, yakni Warung Buncit dengan tikungan tajam, turunan, dan tanjakan. Rawapanjang Bekasi jalur lurus yang penuh truk dan kontainer, Kemayoran jalur panjang dan rata, Klender jalur sempit dan gelap, Asia Afrika jalur pendek dan ada tikungan tajam di bundaran, Pondok Indah jalur bergengsi.
Dijelaskannya, dilokasi tersebut, bursa taruhannya cukup mengejutkan, yakni Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Sedangkan di pinggiran Jakarta antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta. Jika memakai joki, pasar taruhan bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 25 juta. “Sejumlah petaruh patungan dan joki mendapat 10 sampai 25 persen, jika menang. Tragisnya, anggota geng motor di arena balapan liar ini sangat muda, antara 14 hingga 22 tahun. Keterlibatan bengkel tertentu dalam balapan liar ini sangat menonjol,” kata Neta.(hms) .
Polisi Harus Ungkap Kasus Geng Motor Brutal Headlines | Sun, Apr 15, 2012 at 00:43 | Jakarta, matanews.com

Neta S Pane
NetaS Pane POLDA Metro Jaya harus segera mengungkap kasus kebrutalan yang dilakukan oleh geng motor.
“Dengan adanya penyerangan brutal yang dilakukan geng motor dari orang-orang yang diduga sebagai oknum TNI pada Jumat dinihari (13/4) ada beberapa hal yang harus dilakukan Polda Metro,” kata Ketua Presidium LSM Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane di Jakarta, Sabtu 14 April 2012.
Pertama, segera berkordinasi dengan Pangdam Jaya agar serangan brutal itu tidak terjadi dan menangkap oknum-oknum yang menjadi penyerang, ujarnya. “IPW berharap Pangdam Jaya mengungkap keterlibatan oknum TNI secara transparan. Sebab selama ini citra TNI di masyarakat sangat positif. Jangan sampai akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab citra tersebut tercoreng dan masyarakat trauma,” kata Neta.
Kedua, polisi harus segera mengusut kasus penganiayaan aparat TNI hingga tewas di Kemayoran dan penembakan dua aparat TNI di kawasan Pasar Pramuka secara cepat, tepat dan tuntas, agar tidak muncul solidaritas korps yang berlebihan yang memicu aksi balas dendam dan main hakim sendiri dari rekan-rekan korban.
“Ketiga membubarkan arena-arena balapan liar di Jakarta secara konsisten dan memproses secara hukum para pembalap liar, meskipun mereka anak pejabat,” kata Neta.Sikap tegas polisi membasmi arena balapan liar pasti akan didukung publik, bahkan para pejabat yang membiarkan anaknya menjadi pelaku balapan liar pasti akan dikecam publik, katanya. Sementara itu, menangapi kasus kebrutalan geng motor di Jakarta Utara Jumat kemarin, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Joko Suyanto menyatakan bahwa Polri bersama POM TNI dan POMAL harus segera mencari dan menemukan pelaku tindak kriminal yang disebut sebagai geng motor.”Siapapun pelakunya apakah itu warga sipil atau anggota TNI tidak ada yang kebal hukum, dan harus segera diungkap, ditangkap dan dibawa ke meja hijau,” kata Joko.(ant/hms).
Kontras Kecam Geng Motor Brutal 
Headlines | Sun, Apr 15, 2012 at 00:04 | Jakarta, matanews.com
KOMISI untuk Orang Hilang dan Korban Tindak  Kekerasan (KontraS) mengecam kebrutalan geng motor di sejumlah lokasi di wilayah DKI Jakarta pada Jumat dini hari (13/4), bahkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S Rajab dinilai gagal melindungi warga Jakarta.
“Kami menyimpulkan, Kapolda Metro Jaya dan jajarannya gagal melindungi warga Jakarta dan tidak melakukan kerja penegakan hukum atas praktik kekerasan yang terjadi sebelumnya, seperti penganiayaan hingga mengakibatkan meninggalnya kelasi Arifin di Kemayoran pada Minggu 31 Maret 2012,” kata Koordinator Kontras, Haris Azhar di Jakarta, Sabtu 14 April 2012.
Pihaknya juga menyayangkan keputusan melibatkan POMAL dalam mendalami kasus penyerangan massal dan brutal dini hari lalu. Disatu sisi Polda Jaya tidak berani mengungkapkan identitas pelaku, tapi disisi lain justru mengajak POMAL melakukan penyelidikan. Jelas bahwa brutalitas yang merusak, mencederai hingga luka dan meninggal adalah kejahatan terhadap kamtibmas dan sudah selayaknya Polisi yang bertanggung jawab untuk mencegah serta melakukan penegakan hukum atas hal tersebut.
“Bukan POMAL tugasnya hanya untuk kejahatan-kejahatan di dalam militer. Tindakan ini justru membuka ruang militer Indonesia masuk dalam urusan kehidupan sipil. Patut disayangkan,” ujar Haris.
Oleh karena itu, KontraS mendesak Polda Metro Jaya harus berani dan lebih profesional dalam melakukan penegakan hukum, terutama terhadap tindakan-tindakan brutal dan premanistik.
KontraS juga meminta agar DPR (Komisi I) untuk menegur Presiden, Kapolri dan Panglima TNI agar tidak mencampuradukan urusan kamtibmas dengan unsur/entitas militeristik, dengan cara melibatkan POMAL dalam urusan ini.
Selain itu, KontraS meminta adanya upaya pemulihan yang maksimal, di mana Polisi harus menangkap semua pelaku kejahatan yang melukai dan membunuh sejumlah orang dalam beberapa hari terakhir.
“Jangan hanya bisa menangkap pembunuh anggota TNI AL saja. Akan tetapi harus seimbang. Selain itu, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial harus memberikan jaminan dan santunan biaya-biaya akibat brutalitas ini,” tutur Haris.
Sebelumnya diberitakan, gerombolan geng motor itu menyerang dan merusak toko swalayan 7-Eleven di Salemba, Jumat (13/4) sekitar pukul 01.45 WIB. Kelompok yang beranggotakan puluhan laki-laki berbadan tegap berambut cepak dan menggunakan sepeda motor itu menebar teror berdarah dari Jakarta Utara hingga Jakarta Pusat.
Lokasi pertama yang mereka sasar adalah pintu gerbang PT Dok Bayu Bahari di Jln. Industri Pelabuhan pada pukul 01.30 WIB. Di sana para anggota gerombolan tersebut melukai dua orang, termasuk petugas keamanan perusahaan. Selain itu, mereka juga merusak satu unit mobil, dan kemudian melempari kantor Polsek Tanjungpriok.
Berdasarkan data yang diperoleh KontraS, pada Jumat dini hari (13/4) terjadi penembakan terhadap Kelasi Sugeng Riadi dari Lembaga Farmasi Angkatan Laut (AL) yang terkena tembakan di telinga kanan, dan Prada Akbar Fidi Aldian dari Yonif Linud 503 Kostrad, tertembak di dada hingga tembus, saat ini dirawat di RSPAD.
Sementara itu, masih di waktu yang sama di Jalan Pramuka, seorang warga sipil bernama Anggi Darmawan (19) tewas dianiaya oleh sekitar 200-an anggota geng motor berambut cepak dan berbadan tegap.(ant/hms).
Dari contoh kasus diatas bahwa dapat saya paparkan tentang konflik komunitas geng motor melalui pendekatan teori konflik Randall Collins lebih kepada konflik individual yang terjadi karena adanya kekuasaan dan kekuatan untuk saling mempengaruhi orang lain dan terjadilah konflik antar individu, selain itu faktor ekonomi seseorang yang belum terpenuhi maka dari itu individu geng motor nekat untuk kebut-kebutan demi kemenangan yaitu menperoleh uang, selain itu mereka mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress pikiran, geng motor pun mencuri karena kekurangan uang. Mereka mempunyai rasa solidaritas ketika temannya di bunuh dan mereka pun dapat membalas dendam. Dan peran serta perhatian keluarga yang kurang terhadap anak-anak Geng Motor. Saya juga akan paparkan tentang geng motor  itu.
 Sekarang geng-geng motor sudah berada dalam taraf berbahaya, Geng Motor semula hanya semacam perkumpulan pecinta motor atau 'motors club' saja. Tapi karena tidak ada pembinaan dan penanggung jawabnya maka kemudian tumbuh menjadi liar, tidak terkontrol dan tak terkendalikan tak segan mereka tawuran dan tak merasa berdosa para geng tersebut membunuh dan kebanyakan anggota geng motor ogah pake perangkat safety seperti helm, sepatu dan jaket.

Kemungkinan juga individu yang ikut dalam geng motor dikarenakan cita-cita dan keinginan tidak tercapai; kegagalan; kehilangan orang yang dicintai; kehilangan pekerjaan; orang tua galak atau pola asuh yang otoriter; serta mendapat tindak kekerasan termasuk kebrutalan di/ dari lingkungan sekitar. Dan orang tua dari anak Geng Motor terlalu fokus mengejar ekonomi dan - bisa saja tidak disengaja - terpaksa melupakan atau menomorduakan fungsi diri sebagai orang tua yang wajib membimbing, memperhatikan, mendampingi, menjadi teman bagi anak-anak mereka.
Itulah peran orang tua yang hilang dari masyarakat sekarang ini. Tak heran bila akhirnya anak mencari pembimbing, pemerhati, pendamping, dan teman dari luar rumah. Kalau yang ditemukan di luar rumah bagus atau positif, tidak masalah. Persoalannya, kebanyakan yang di luar rumah itu negatif. Bertemulah mereka dengan kawan senasib yang harus mencari juga. Itulah generasi yang akan kehilangan arah hidup akibat tidak ada cinta dari orang tua. Cinta dimaksudkan sebagai kewajiban keluarga untuk membimbing, memperhatikan, mendampingi, dan menjadi teman dari anak-anak mereka. Jadi, Geng Motor akarnya tetap dari keluarga. Serta Polisi harus segera membubarkan arena-arena balapan liar di Jakarta dan di semua wilayah secara konsisten dan memproses secara hukum para pembalap liar.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Tokoh utama dalam upaya membangun teori konflik yang lebih sintesis dan integratif adalah Randall Collins. Conflict Sosiology karya Collins (1975) sangat integratif karena jauh lebih berorientasi mikro ketimbang teori konflik makro. Collins memilih memusatkan perhatian pada stratifikasi sosial karena stratifikasi sosial adalah institusi yang menyentuh begitu banyak ciri kehidupan, seperti “kekayaan, politik, karier, keluarga, klub, komunitas, gaya hidup” (1975:49). Dengan tiga prinsip Collins. Yaitu pertama, Collins yakin bahwa orang hidup dalam dunia subjektif yang dibangun sendiri. Kedua, orang lain mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi atau mengontrol pengalaman subjektif seorang individu. Ketiga, orang lain sering mencoba mengontrol orang yang menentang mereka. Akibatnya adalah kemungkinan terjadinya konflik antar individu. Konflik komunitas geng motor melalui pendekatan teori konflik Randall Collins lebih kepada konflik individual yang terjadi karena adanya kekuasaan dan kekuatan untuk saling mempengaruhi orang lain dan terjadilah konflik antar individu, selain itu faktor ekonomi seseorang yang belum terpenuhi maka dari itu individu geng motor nekat untuk kebut-kebutan demi kemenangan yaitu menperoleh uang, selain itu mereka mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress pikiran, geng motor pun mencuri karena kekurangan uang. Mereka mempunyai rasa solidaritas ketika temannya di bunuh dan mereka pun dapat membalas dendam. Dan peran serta perhatian keluarga yang kurang terhadap anak-anak Geng Motor






Daftar Pustaka


George Ritzer-Douglas J.Goodman. Teori Sosiologi Modern . Jakarta: Kencana
http://arik_mgt.student.fkip.uns.ac.id/2009/06/19/26/  (diakses pada tanggal 29 April 2012)
http://www.artikelk3.com/topik/konflik+geng+motor.html (diakses pada tanggal 29 April 2012)




[1]  http://doktorpaisal.wordpress.com/2009/12/20/biografi-randall-collins/
[2]  George Ritzer-Douglas J.Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Kencana,2010), hlm.16.

[3] http://arik_mgt.student.fkip.uns.ac.id/2009/06/19/26/
[4] http://www.artikelk3.com/topik/konflik+geng+motor.html



Jumat, 09 November 2012

Posted by Lita jamallia On 04.14

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Begitu banyak bayangan kita tantang kota yang tanpa ada batasan yang jelas, yang mana dalam bayangan kita ketika ada istilah kota, maka yang kita bayangkan adalah sebuah wilayah yang selalu sibuk dengan segala aktivitasnya. Dan kota selalu dipandang sebagai pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, dan pusat pemerintahan. Namun, berdasarkan sejarahnya perkembangan kota itu berasal dari tempat-tempat pemukiman yang sangat sederhana. Begitupun mengenai ruang lingkupnya pasti terdapat batasan-batasan konkritnya juga.
Maka untuk itu dalam makalah ini kami mencoba memaparkan pengertian kota menurut para ahlinya serta aspek-aspek dari perkotaan. Yang nantinya dapat dijadikan sebagai pembanding dalam mencermati setiap keadaan di lingkungan kita.

B.        Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang yang sudah dipaparkan tadi, penulis ingin memberikan rumusan masalah diantaranya sebagai berikut :
1.      Bagaimana pengertian kota secara konkrit ?
2.      Bagaimana pengertian kota menurut para ahli ?
3.      Apa saja yang termasuk ruang lingkup dari kota ?
4.      Bagaimana keruangan kota menurut beberapa aspek ?

C.        Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini ialah selain untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Sosiologi Perkotaan, juga untuk memberikan gambaran serta pengetahuan secara umum mengenai Pengertian dari sosiologi perkotaan serta ruang lingkup kajiannya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.        Pengertian Sosiologi Perkotaan
Sosiologi perkotaan merupakan bagian dari studi sosiologi tentang kehidupan sosial dan interaksi manusia di wilayah metropolitan. Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan. Studi ini adalah disiplin sosiologi norma yang mempelajari struktur, proses, perubahan dan masalah di sebuah wilayah urban dan memberi masukan untuk perencanaan dan pembuatan kebijakan.
Seperti bidang sosiologi yang lainnya, sosiologi perkotaan juga menggunakan analisis statistik, pengamatan, teori sosial, wawancara, dan metode lain untuk mempelajari berbagai topik, seperti migrasi dan demografiekonomikemiskinan, hubungan ras, dan lainnya[1].

B.        Pengertian Kota Menurut Para Ahli
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Kota bisa dibilang sebagai tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan[2]. Berikut pengertian kota menurut beberapa ahli[3] :
1.      Max Weber berpendapar bahwa “suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu harus dihasilkan oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu. Jadi menurut Max Weber, ciri kota adalah adanya pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem hukum dan lain-lain tersendiri, dan bersifat kosmopolitan.
2.      Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Jadi menurut teori ini, kota diartikan sebagai pusat pelayanan. Sebagai pusat tergantung kepada seberapa jauh daerah-daerah sekitar kota memanfaatkan penyediaan jasa-jasa kota itu. Dari pandangan ini kemudian kota-kota tersusun dalam suatu hirarki berbagai jenis.
3.      Sjoberg berpendapat bahwa , sebagai titik awal gejala kota adalah timbulnya golongan literati (golongan intelegensia kuno seperti pujangga, sastrawan dan ahli-ahli keagamaan), atau berbagai kelompok spesialis yang berpendidikan dan nonagraris, sehingga muncul pembagian kerja tertentu. Pembagian kerja ini merupakan ciri kota.
4.      Wirth, mendifinisikan kota sebagai pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Akibatnya hubungan sosialnya menjadi longgar acuh dan tidak pribadi (impersonal relation)
5.      Karl Marx dan F.Engels memandang kota sebagai “persekutuan yang dibentuk guna melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat-alat produksi dan alat -alat yang diperlukan agar anggota masing-masing dapat mempertahankan diri”. Perbedaan antara kota dan pedesaan menurut mereka adalah pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi.
6.      Harris dan Ullman , berpendapat bahwa kota merupakan pusat pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks. Pertumbuhannya yang cepat dan luasnya kota-kota menunjukkan keunggulan dalam mengeksploitasi bumi, tetapi di pihak lain juga berakibta munculnya lingkungan yang miskin bagi manusia. Yang perlu diperhatikan, menurut Harris dan Ullman adalah bagaimana membangun kota di masa depan agar keuntungan dari konsentrasi pemikiman tidak mendatangkan kerugian atau paling tidak kerugian dapat diperkecil.
7.      Menurut ahli Geografi Indonesia, Prof. Bintarto, (1984:36) “kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemutusan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.”
8.      Menurut Arnold Tonybee, sebuah kota tidak hanya merupakan pemukiman khusus tetapi merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kota menunjukkan perwujudan pribadinya masing-masing.


                 BAB III
RUANG LINGKUP SOSIOLOGI PERKOTAAN

Seperti disiplin ilmu lainnya, dalam sosiologi perkotaan juga memiliki berbagai ruang lingkup kajiannya tersendiri. Ruang lingkup dalam sosiologi perkotaan adalah mengenai kehidupan serta aktivitas masyarakat kota.

A.        Pengertian Masyarakat Perkotaan
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan. Sebenarnya perbedaan tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana karena dalam masyarakat modern, seberapapun kecilnya desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Pembedaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan, pada hakikatnya bersifat gradual. Agak sulit untuk memberikan batasan yang dimaksudkan dengan perkotaan karena adanya hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisme[4].
Masyarakat perkotaan yang mana kita ketahui itu selalu identik dengan sifat yang individual, egois, matrealistis, penuh kemewahan, dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Asumsi dasar kita tentang kota adalah tempat kesuksesan seseorang.
Masyarakat  perkotaan lebih dipahami sebagai kehidupan komunitas yang memiliki sifat kehidupan dan ciri-ciri kehidupannya berbeda dengan masyarakat pedesaan. Akan tetapi kenyataannya di perkotaan juga masih banyak terdapat beberapa kelompok pekerja-pekerja di sektor informal, misalnya tukang becak, tukang sapu jalanan, pemulung sampai pengemis. Dan bila kita telusuri masih banyak juga terdapat perkampungan-perkampungan kumuh tidak layak huni.
1.      Ciri-ciri Masyarakat Kota[5] :
a.       Hubungan   dengan  masyarakat   lain   dilakukan   secara   terbuka   dengan suasana yang saling memepengaruhi.
b.      Keprcayaan yang kuat akan Ilmu Pengetahuan Teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c.       Masyarakatnya   tergolong   ke   dalam  macam-macam   profesi yang   dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan.
d.      Tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata
e.       Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang sangat kompleks.

B.        Kehidupan Masyarakat perkotaan
Secara sosiologis penekanannya pada pola hubungan serta kesatuan masyarakat industri, bisnis, dan  wirausaha lainnya dalam struktur yang lebih kompleks.
Sedangkan secara fisik,  kota dinampakkan dengan adanya gedung-gedung yang menjulang tinggi, hiruk pikuknya kendaraan, pabrik, kemacetan, kesibukan warga masyarakatnya, persaingan yang tinggi, polusinya, dan sebagainya.
Masyarakat di perkotaan secara sosial kehidupannya cendrung heterogen, individual, persaingan yang tinggi yang sering kali menimbulkan pertentangan atau konflik. Munculnya sebuah asumsi yang menyatakan bahwa masyarakat kota itu pintar, tidak mudah tertipu, cekatan dalam berpikir, dan bertindak, dan mudah menerima perubahan, itu tidak selamanya benar, karena secara implisit dibalik semua itu masih ada masyarakatnya yang hidup di bawah standar kehidupan sosial. Untuk lebih memahami secara rinci mengenai kehidupan masyarakat perkotaan, berikut diuraikan beberapa ruang lingkup dari perkotaan[6] :
a.       Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Bagi masyarakat kota cendrung mengabaikan kepercayaan yang berkaitan dengan kekuatan alam serta pola hidupnya lebih mendasarkan pada rasionalnya.
Dan bila dilihat dari mata pencahariannya masyarakat kota tidak bergantung  pada kekuatan alam, melainkan bergantung pada tingkat kemampuannya (capablelitas) untuk bersaing dalam dunia usaha. Gejala alam itu bisa dipahami secara ilmiah dan secara rasional dapat dikendalikan.
b.      Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Kebanyakan masyarakatnya bergantung pada pola industri (kapitalis), bentuk mata pencaharian yang primer seperti sebagai pengusaha, pedagang, dan buruh industri. Namun ada sekelompok masyarakat yang bekerja pada sektor informal misalnya pemulung, pengemis dan pengamen.
c.       Ukuran Komunitas
Umumnya masyarakat perkotaan lebih heterogen dibandingkan masyarakat pedesaan. Karena mayoritas masyarakatnya berasal dari sosiokultural yang berbeda-beda, dan masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang bermacam-macam pula, diantaranya ada yang mencari pekerjaan atau ada yang menempuh pendidikan. Jumlah penduduknya masih relatif besar.
d.      Kepadatan penduduk
Tingkat kepadatan di kota lebih tinggi bila dibandingkan di desa, hal ini disebabkan oleh kebanyakan penduduk di daerah perkotaan awalnya dari berbagai daerah.
e.       Homogenitas dan Heterogenitas
Dalam struktur masyarakat perkotaan yang sering sekali nampak adalah heterogenitas dalam ciri-ciri sosial, psikologis, agama, dan kepercayaan, adat istiadat dan perilakunya. Dengan demikian struktur masyarakat perkotaan sering mengalami interseksi sosial, mobilitas sosial, dan dinamika sosial.
f.       Diferensiasi Sosial
Di daerah perkotaan, diferensiasi sosial relatif tinggi, sebab tingkat perbedaan agama, adat istiadat, bahasa, dan sosiokultural yang dibawa oleh para pendatang dari berbagai daerah cukup tinggi.
g.      Pelapisan Sosial
Lapisan sosialnya lebih didominasi oleh perbedaan status dan peranan di dalam struktur masyarakatnya. Di dalam struktur masyarakat modern lebih menghargai prestasi daripada keturunan.
h.      Mobilitas Sosial
Mobilitas pada masyarakat perkotaan lebih dinamis daripada masyarakat pedesaan. Kenyataan itu adalah sebuah kewajaran sebab perputaran uang lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di pedesaan.
i.        Interaksi Sosial
Dalam interaksi pada masyarakat perkotaan lebih kita kenal dengan yang namanya gesseslchaft yaitu kelompok patembayan. Yang mana ada hubungan timbal balik dalam bentuk perjanjian-perjanjian tertentu yang orientasinya adalah keuntungan atau pamrih. Sehingga hubungan yang terjadi hanya seperlunya saja.
j.        Pengawasan Sosial
Dikarenakan masyarakatnya yang kurang saling mengenal satu sama lain dan juga luasnya wilayah kultural perkotaan di tambah lagi keheterogenitasan masyarakatnya yang membuat sistem pengawasan sosial perilaku antar anggota masyarakatnya makin sulit terkontrol.
k.      Pola Kepemimpinan
Kepemimpinanya didasarkan pada pertanggung jawaban secara rasional atas dasar moral dan hukum. Dengan demikian hubungan antar pemimpin dan warga masyarakatnya berorientasi pada hubungan formalitas.
l.        Standar Kehidupan
Standar kehidupannya di ukur dari barang-barang yang dianggap punya nilai (harta benda). Mereka lebih mengenal deposito atau tabungan. Karena menurut mereka menyimpan uang dalam bentuk deposito dianggap lebih praktis dan mudah. Ditambah lagi kepemilikan barang-barang mewah lainnya.
m.    Kesetiakawanan Sosial
Ikatan solidaritas sosial dan kesetiakawanan lebih renggang, ikatan ini biasa disebut dengan patembayan. Artinya , pola hubungan untung rugi lebih dominan daripada kepentingan solidaritas dan kesetiakawanan.
n.      Nilai dan Sistem Nilai
Nilai dan sistem nilai di dalam struktur masyarakat perkotaan lebih bersifat formal, berdasarkan aturan-aturan yang resmi seperti hukum dan perundang-undangan.

C.        Keruangan Kota Jika dilihat dari Beberapa Aspek
Dalam konteks ruang kota merupakan suatu sistem yang tidak berdiri sendiri, karena secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem kegiatan fungsional di dalamnya, sementara secara eksternal kota dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Kota ditinjau dari aspek fisik merupakan kawasan terbangun yang terletak saling berdekatan atau terkonsentrasi, yang meluas dari pusatnya hingga ke wilayah pinggiran atau wilayah geografis yang dominan oleh struktur binaan.
Kota ditinjau dari aspek sosial merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk satu komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja, seperti produksi rumahan (Home Industry) dan UKM.
Kota ditinjau dari aspek ekonomi memiliki fungsi sebagai penghasil produksi barang dan jasa untuk mendukung kehidupan penduduknya dan untuk keberlangsungan kota itu sendiri.
Di indonesia kawasan perkotaan di bedakan berdasarkan strata administrasinya yakni :
1.      Kawasan perkotaan berstatus administratif daerah kota
2.      Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari daerah kabupaten
3.      Kawasan perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah kawasan pedesaan menjadi kawasan perkotaan, dan
4.      Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan[7].



BAB IV
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Berdasarkan analisis makalah diatas bisa kami tarik kesimpulan bahwa pengertian kota itu sangatlah beragam tergantung dari segi mana kita melihatnya, seperti yang sudah dipaparkan oleh para ahlinya di atas. Yang mana dalam kajian sosiologi perkotaan ini khususnya pembahasan mengenai ruang lingkupnya yaitu yang tidak jauh dari konteks masyarakat karena sosiologi selalu terkait dengan pola hubungan masyarakat. Maka ruang lingkup dari sosiologi perkotaan adalah mengenai kehidupan serta aktivitas dari masyarakat perkotaan itu sendiri.
Kemudian dalam kehidupan masyarakat kota bisa diuraikan dari beberapa ruang lingkup kajiannya, yaitu : lingkungan umum dan orientasinya, pekerjaan dan mata pencaharian, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogenitas dan heterogenitas, deferensiasi sosial, pelapisan sosial, mobilitas sosial, interaksi sosial, pengawasan sosial, pola kepemimpinan, standar kehidupan, kesetiakawanan, nilai dan sistem nilai.

B.        Saran
Sebaiknya dalam mendalami sosiologi perkotaan yang pertama harus mengetahui dulu pengertian kota, dan juga aspek-aspek yang terkandung di dalamnya, agar untuk pembelajaran kedepannya bisa sepenuhnya dipahami.


Daftar Pustaka

Soekanto, Soerjono, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Jakarta : Rajawali Pers, 2009.